Jumat, 15 April 2011

Manajemen Resiko



Manajemen resiko adalah proses pengukuran atau penilaian resiko serta pengembangan strategi pengelolaannya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan resiko kepada pihak lain, menghindari resiko, mengurangi efek negatif resiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi resiko tertentu. Manajemen resiko tradisional terfokus pada resiko-resiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian serta tuntutan hokum). (Wikipedia)
          Manajemen resiko adalah rangkaian langkah-langkah yang membantu suatu perangkat lunak untuk memahami dan mengatur ketidak pastian (Roger S. Pressman).
Mengapa manajemen resiko itu penting? Sikap orang ketika menghadapi resiko berbeda-beda. Ada orang yang berusaha untuk menghindari resiko, namun ada juga yang sebaliknya sangat senang menghadapi resiko sementara yang lain mungkin tidak terpengaruh dengan adanya resiko. Pemahaman atas sikap orang terhadap resiko ini dapat membantu untuk mengerti betapa resiko itu penting untuk ditangani dengan baik.
Untuk mengurangi bahaya tersebut maka harus ada jaminan untuk meminimalkan resiko atau paling tidak mendistribusikannya selama pengembangan tersebut dan idealnya resiko tersebut dihapus dari aktifitas yang mempunyai jalur yang kritis.
          Resiko dari sebuah aktifitas yang sedang berlangsung sebagian bergantung pada siapa yang mengerjakan atau siapa yang mengelola aktifitas tersebut. Evaluasi resiko dan alokasi staf dan sumber daya lainnya erat kaitannya.
-      Uncertainty : tidak ada resiko yang 100% pasti muncul.
-      Loss : resiko berimbas pada kehilangan.
Dan resiko memiliki tiga kategori:
-      Resiko proyek 
-      Resiko teknikal
-      Resiko bisnis

Langkah-langkah dalam manajemen proses adalah :
  1. Identifikasi resiko
Proses ini meliputi identifikasi resiko yang mungkin terjadi dalam suatu aktivitas usaha. Identifikasi resiko secara akurat dan komplit sangatlah vital dalam manajemen resiko. Salah satu aspek penting dalam identifikasi resiko adalah mendaftar resiko yang mungkin terjadi sebanyak mungkin. Teknik-teknik yang dapat digunakan dalam identifikasi resiko antara lain:
    • Brainstorming
    • Survei
    • Wawancara
    • Informasi histori
    • Kelompok kerja
Tipe-tipe resiko:
Untuk keperluan identifikasi dan mengelola resiko yang dapat menyebabkan sebuah pengembangan melampaui batas waktu dan biaya yang sudah dialokasikan maka perlu diidentifikasikan tiga tipe resiko yang ada yaitu:
    • Resiko yang disebabkan karena kesulitan melakukan estimasi.
    • Resiko yang disebabkan karena asumsi yang dibuat selama proses perencanaan.
    • Resiko yang disebabkan adanya even yang tidak terlihat (atau tidak direncanakan).
Beberapa kategori faktor yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
    • Application Factor
    • Staff Factor
    • Project Factor
    • Project Methods
    • Supplier Factor

    • Environment Factor

    • Health and Safety Factor


Rabu, 13 April 2011

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 36 TAHUN 2009
TENTANG
KESEHATAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Menimbang
a. bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. bahwa setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsip nondiskriminatif, partisipatif, dan berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia, serta peningkatan ketahanan dan daya saing bangsa bagi pembangunan nasional;
c. bahwa setiap hal yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan pada masyarakat Indonesia akan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi negara, dan setiap upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat juga berarti investasi bagi pembangunan negara;
d. bahwa setiap upaya pembangunan harus dilandasi dengan wawasan kesehatan dalam arti pembangunan nasional harus memperhatikan kesehatan masyarakat dan merupakan tanggung jawab semua pihak baik Pemerintah maupun masyarakat;
bahwa Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan, tuntutan, dan kebutuhan hukum dalam masyarakat sehingga perlu dicabut dan diganti dengan Undang-Undang tentang Kesehatan yang baru;

Selasa, 12 April 2011

Dasar AKK

PENDAHULUAN

Terwujudnya keadaan sehat adalah kehendak semua pihak. Tidak hanya oleh orang per orang, tetapi juga oleh keluarga, kelompok dan bahkan oleh masyarakat. Untuk dapat mewujudkan keadaan sehat tersebut banyak hal yang perlu dilakukan. Salah satu diantaranya yang dinilai mempunyai peranan yang cukup penting adalah menyelenggarakan pelayanan kesehatan.(Blum, 1974).

Batasan
Jika menyebut perkataan administrasi kesehatan, ada dua pengertian yang terkandung di dalamnya, yakni pengertian administrasi dan pengertian kesehatan. Administrasi berasal dari kata administrare (Latin: ad=pada, ministrare=melayani). Dengan demikian, jika ditinjau dari asal katanya, administrasi berarti memberikan pelayanan kepada.

Beberapa pengertian administrasi
• Dwight Waldo
Administrasi adalah kegiatan kerjasama secara rasional yang tercermin pada pengelompokkan kegiatan menurut fungsi yang dilakukan.

• Robert D. Calkins
Administrasi adalah kombinasi antara pengambil keputusan dengan pelaksanaan dari keputusan tersebut untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

• George R. Terry
Administrasi adalah upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan mempergunakan orang lain.

• Koontz O’Donnell
Administrasi adalah upaya mencapai tujuan yang diinginkan dengan menciptakan lingkungan kerja yang menguntungkan.

• Social Science Encyclopedia
Administrasi adalah suatu proses dengan mana upaya untuk mencapai tujuan tertentu dapat dilaksanakan dan diawasi.

Beberapa pengertian kesehatan
• Perkin, 1938
Sehat adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dengan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya.

• WHO, 1947 & UU Pokok Kesehatan No.9 Tahun 1960
Sehat adalah suatu keadaan sejahtera sempurna fisik, mental dan sosial yang tidak hanya terbatas pada bebas dari penyakit atau kelemahan saja.

• WHO, 1957
Sehat adalah suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dipunyainya

• White, 1977
Sehat adalah keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa oleh ahlinya tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda penyakit atau kelainan.

• UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992
Sehat adalah suatu keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa yang dimaksud dengan Administrasi Kesehatan tidak lain ialah administrasi yang diterapkan pada upaya kesehatan demi terciptanya suatu keadaan sehat.

Penjabaran pengertian administrasi kesehatan yang cukup mewakili adalah yang disusun oleh Komisi Pendidikan Admini-strasi Kesehatan Amerika Serikat, pada tahun 1974.

Pengertian Administrasi Kesehatan
Administrasi kesehatan ialah suatu proses yang menyangkut perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, peng-koordinasian dan penilaian terhadap sumber, tata cara dan kesanggupan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan terhadap kesehatan, perawatan kedokteran serta ling-kungan yang sehat dengan jalan, menyediakan dan menyeleng-garakan berbagai upaya kesehatan yang ditujukan kepada perseorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat.

Unsur Pokok Administrasi Kesehatan
Jika diperhatikan batasan administrasi kesehatan di atas, terlihat bahwa dalam batasan tersebut ditemukan setidak-tidaknya lima (5) unsur pokok yang peranannya amat penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya pelaksanaan admini-strasi kesehatan.

Kelima unsur pokok yang dimaksud ialah :
o Masukan (Input)
Yang dimaksud dengan masukan (input) dalam administrasi adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk dapat melaksana-kan pekerjaan administrasi.

Masukan ini dikenal pula dengan nama perangkat administrasi (tools of administration). Masukan dan atau perangkat administrasi tersebut banyak macamnya. Beberapa di antaranya yang terpenting adalah :
• Komisi Pendidikan Administrasi Kesehatan AS
Membedakan masukan dan atau perangkat administrasi atas 3
macam:
1. Sumber (resources)
Yang dibedakan atas 3 macam:
a. Sumber tenaga (labour resources)
- tenaga ahli (skilled) seperti dokter, drg, bidan,
perawat
- tenaga tidak ahli (unskilled) seperti pesuruh, penjaga malam dan pekerja kasar lainnya.
b. Sumber modal (capital resources)
- modal bergerak (working capital) seperti uang dan
giro
- modal tidak bergerak (fixed capital) seperti
bangunan, tanah dan sarana kesehatan
c. Sumber alamiah (natural resources)
Adalah segala sesuatu yang terdapat di alam yang
tidak termasuk sumber tenaga dan sumber modal

2. Tata Cara (Procedures)
Adalah berbagai kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran
yang dimiliki dan yang diterapkan

3. Kesanggupan (Capacity)
Adalah keadaan fisik, mental dan biologis tenaga
pelaksana.

• Koontz dan Donnells
Membedakan masukan dan atau perangkat administrasi atas 4
macam yakni :

1. Manusia (man)
2. Modal (capacity)
3. Manajerial (managerial)
4. Teknologi (technology)

• Pembagian lain yang banyak di kenal di masyarakat, ialah yang disebut dengan 4 M (utk organisasi yang tidak mencari keuntungan):
- Manusia (man)
- Uang (money)
- Sarana (material)
- Metoda (method)

• Untuk organisasi yang mencari keuntungan dibagi menjadi 6 M:
- Manusia (man)
- Uang (money)
- Sarana (material)
- Metoda (method)
- Pasar (marketing)
- Mesin (machinery)

o Proses (Process)
Adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Proses ini dikenal pula dengan nama fungsi administrasi (function of administration). Pada umumnya, proses dan ataupun fungsi administrasi ini merupakan tanggung jawab pimpinan.

Beberapa pembagian proses dan ataupun fungsi administrasi yang terpenting sebagai berikut:


• Komisi Pendidikan Adm. Kes. AS, membedakan fungsi administrasi atas 6 macam:
1. Perencanaan (planning)
2. Pengorganisasian (organizing)
3. Pengarahan (directing)
4. Pengawasan (controlling)
5. Pengkoordinasian (coordinating)
6. Penilaian (evaluation)

• Freeman
Membedakan fungsi administrasi atas 6 macam:
1. Perencanaan (planning)
2. Penggerakan (actuating)
3. Pengkoordinasian (coordinating)
4. Bimbingan (guidance)
5. Membebaskan (freedom)
6. Pertanggungjawaban (responsibility)

• George R. Terry
Membedakan fungsi administrasi atas 4 macam:
1. Perencanaan (planning)
2. Pengorganisasian (organizing)
3. Penggerakan (actuating)
4. Pengawasan (controlling)
Fungsi adm. Ini terkenal dgn singkatan POAC

• Barton
Membedakan fungsi administrasi atas 8 macam:
1. Perencanaan (planning),
2. Pengorganisasian (organizing),
3. Penyusunan staf (staffing),
4. Penyusunan anggaran belanja (budgeting),
5. Pelaksanaan (implementing),
6. Pengkoordinasian (coordinating),
7. Pelaporan (reporting) dan
8. Penilaian (evaluation)

• Luther M. Gullick
Membedakan fungsi administrasi atas 7 macam:
1. Perencanaan (planning),
2. Pengorganisasian (organizing),
3. Penyusunan staf (staffing),
4. Pengarahan (directing),
5. Pengkoordinasian (coordinating),
6. Pelaporan (reporting),
7. Penyusunan anggaran belanja (budgeting).
Fungsi adm ini dikenal dgn singkatan POSDCORB.

• Hendry Fayol
Membedakan fungsi administrasi atas 5 macam:
1. Perencanaan (planning)
2. Pengorganisasian (organizing)
3. Perintah (comanding)
4. Pengkoordinasian (coordinating)
5. Pengawasan (controlling)

Untuk memudahkan pelaksanaannya, fungsi administrasi disederhanakan menjadi 4 macam:
1. Perencanaan (planning)
Didalamnya termasuk penyusunan anggaran (budgeting)
2. Pengorganisasian (organizing)
Didalamnya termasuk penyusunan staf (staffing)
3. Pelaksanaan (implementing)
Didalamnya termasuk pengarahan (directing), pengkoor-
dinasian (coordinating), bimbingan (guidance), penggerakan
(actuating), & pengawasan (controlling)
4. Penilaian (evaluation)
Didalamnya termasuk penyusunan laporan(reporting)

o Keluaran (Output)
Adalah hasil dari suatu pekerjaan administrasi. Untuk administrasi kesehatan keluaran tersebut dikenal dengan nama pelayanan kesehatan (health services). Saat ini pelayanan kesehatan, secara umum dibedakan atas 2 jenis:
- Pelayanan kedokteran (medical services)
- Pelayanan kes-mas (public health services)

o Sasaran (Target)
Adalah kepada siapa keluaran yang dihasilkan, yakni upaya kesehatan tersebut, ditujukan. Sasaran yang dimaksudkan dalam administrasi kesehatan dibedakan atas 4 macam:
- Perseorangan
- Keluarga
- Kelompok
- Masyarakat
Dapat bersifat sasaran langsung (direct target) atau tidak langsung (indirect target)

o Dampak (Impact)
Adalah akibat yang ditimbulkan oleh keluaran. Untuk administrasi kesehatan, dampak yang diharapkan ialah makin meningkatnya derajat kesehatan. Peningkatan derajat kesehatan hanya akan dapat tercapai bila kebutuhan (needs) dan tuntutan (demands) perseorangan, keluarga, kelompok dan atau masyarakat terhadap kesehatan, pelayanan kedokteran serta lingkungan yg sehat dpt terpenuhi. Kebutuhan dan tuntutan ini adalah sesuatu yang terdapat pada pihak pemakai jasa pelayanan kesehatan (health consumer).

Minggu, 10 April 2011

Mencari sesuap Nasi sebongkah Berlian (Kisah "Dosen Terbang")

Mencari sesuap Nasi sebongkah Berlian (Kisah "Dosen Terbang")

Menjadi seorang dosen apalagi dengan status dosen yayasan yang tidak "bonafid" sungguh butuh energi khusus.
Bagaimana tidak, Setiap saat harus mampu bersaing untuk mendapatkan kesempatan berdiri didepan kelas sebab dari situ lah sumber penghasilannya yang akan diakumulasi setiap akhir semester.
Ya begitulah, untuk menambah jam kelas yang sangat bersaing, mendapatkan kesempatan untuk ditugaskan kedaerah sungguh sebuah rezeki tambahan yang berarti bahwa dapur dirumah masih bisa mengepul 1 minggu ini, sementara jika agak lama baru ada tugas tambahan maka gali lobang tutup lobang lah solusinya he he...
Bagaimana mungkin hanya mengandalkan honor akumulasi pada akhir semester yang kadang cukup banyak jika banyak menggantikan dosen senior dan kadang sangat rendah jika dosen senior pada rajin masuk, sementara setiap hari keluarga dirumah butuh makan..
perjalanan kedaerah harus dijalani baik itu via kendaraan roda empat (pribadi atau umum), kapal laut, maupun kadang2 pesawat terbang secara ikhlas sebab disitulah akan lahir sejuta harapan.

Tapi itulah pilihan hidup, dimana ada suka di satu sisi, dan duka disisi yang lain.

semoga hal ini menjadi berkah untuk kehidupanku, keluargaku baik di dunia maupun diakhirat kelak.amin...

Selasa, 05 April 2011

Definisi Manajemen Logistik Puskesmas dan RS

Tujuan dari manajemen logistik adalah tersedianya bahan logistik setiap saat dibutuhkan, baik mengenai jenis, jumlah maupun kualitas yang dibutuhkan secara efisien.

Ketersediaan setiap saat dibutuhkan ini sering dirancukan dengan istilah Just In Time, yang sebenarnya adalah salah satu metode untuk mengendalikan penyediaan bahan dalam proses produksi sesuai pentahapannya.

Dengan demikian manajemen logistik dapat dipahami sebagai proses penggerakan dan pemberdayaan semua sumber daya yang dimiliki dan atau yang potensial untuk dimanfaatkan, untuk operasional, secara efektif dan efisien. Oleh karena itu untuk menilai apakah pengelolaan logistik sudah memadai, menjadi sangat sederhana, yaitu dengan menilai apakah sering terjadi keterlambatan dan atau bahan yang dibutuhkan tidak tersedia, berapa kali frekuensinya, berapa banyak persediaan yang mengganggur (idle stock) dan berapa lama hal itu terjadi. Berapa banyak bahan yang kadaluarsa atau rusak atau tidak dapat dipakai lagi. Menurut Hartono (2004) manejemen logistik sebagai suatu fungsi mempunyai kegiatan-kegiatan yakni :

a. Perencanaan Kebutuhan
Fungsi perencanaan ini pada dasarnya adalah menghitung berapa besar kebutuhan bahan logistik yang diperlukan untuk periode waktu tertentu, biasanya untuk satu tahun. Menurut Hartono (2004 ) ada dua cara pendekatan yang digunakan dalam perencanaan kebutuhan obat, yaitu :
1). Dengan mengetahui atau menghitung kebutuhan yang telah dengan nyata dipergunakan dalam periode waktu yang lalu :

a). Jumlah sisa/persediaan pada awal periode
b). Jumlah pembelian pada periode waktu.
c). Jumlah bahan logistik yang terpakai selama periode.
d). Jumlah sisa bahan logistik pada akhir periode
e). Membuat analisis efisiensi penggunaan bahan logistik, dikaitkan dengan kinerja yang dicapai.
f). Membuat analisis kelancaran penyediaan bahan logistik, misalnya frekuensi barang yang di minta “habis” atau tidak ada persediaan, jumlah barang yang menumpuk, serta penyebab terjadinya keadaan tersebut.

Metode ini sering disebut dengan metode konsumsi, yaitu melihat besarnya penggunaan periode lalu
2). Dengan melihat program kerja yang akan datang :
a). Membuat analisa kebutuhan untuk dapat menunjang pelaksana kegiatan pada periode waktu yang akan datang, yang berorientasi kepada program pelayanan, pola penyakit, target kinerja pelayanan
b). Memperhatikan kebijakan pimpinan mengenai standarisasi bahan, ataupun kebijakan dalam pengadaan. (Untuk obat misalnya ada formalarium, untuk pengadaan di RS dan puskesmas milik Pemerintah diatur oleh Keppres
c). Menyesuaikan perhitungan dengan memperhatikan persediaan awal, baik meliputi jenis, jumlah maupun spesifikasi bahan logistik
d). Memperhatikan kemampuan gudang tempat penyimpanan barang metode ini sering diistilahkan dengan metode epidemiologi
Dalam perhitungan dilapangan, biasanya kedua metode ini dipergunakan secara simultan dalam arti untuk saling melengkapi. Keracunan yang sering terjadi adalah istilah perencanaan kebutuhan disamakan dengan perencanaan pengadaan, karena keduanya memang membuat perhitungan kebutuhan, hanya tujuannya berbeda.
Perhitungan kebutuhan diatas dilaksanakan secara berjenjang dan bertahap yaitu dimulai dari unit / satuan kerja terkecil, kemudian sesuai dengan hierarki diteruskan keatas melalui bidang /bagan untuk dikompilasi dan dianalisa, menjadi suatu usulan /rencana kebutuhan rumah sakit atau puskesmas. Kebutuhan tadi dibuat dalam bentuk matriks sehingga terlihat besar kebutuhan perjenis barang dan kapan harus disediakan (alokasi jumlah dan waktu)

b. Penganggaran
Fungsi berikutnya adalah menghitung kebutuhan diatas dengan harga satuan ( dapat berdasarkan harga pembeli waktu yang lalu atau menurut informasi yang terbaru), sehingga akan diketahui kebutuhan anggaran untuk pengadaan bahan logistik tersebut. Karena bahan logistik itu beraneka ragam jenis dan sifatnya, maka pengalokasian dalam rencana anggaranpun biasanya terintegrasi dalam berbagai mata anggaran. Mengingat bahwa bahan farmasi, obat-obatan dan alat medis habis dipakai merupakan hal yang vital dalam pelayanan, dan mendapat porsi yang cukup besar dalam penyediaan anggaran,maka pendalaman mengenai pengendalian bahan farmasi di rumah sakit dan puskesmas akan mendapat porsi yang lebih banyak dalam perencanaan logistik Rumah sakit atau Puskesmas.
Namun jika jumlah/besarnya anggaran melampaui perkiraan besarnya pendapatan, maka harus diadakan upaya untuk meningkatkan pendapatan dan atau mengingatkan efisiensi, oleh karena itu perlu dilakukan analisa kembali, belanja apa saja yang bisa di kurangi atau dihilangkan.
Contoh Penganggaran Logistik RS

c. Pengadaan
Fungsi berikutnya adalah pengadaan, yaitu semua kegiatan yang dilakukan untuk mengadakan bahan logistik yang telah direncanakan, baik melalui prosedur:
1). Pembelian
2). Produksi sendiri, maupun dengan
3). Sumbangan dari pihak lain, yang tidak mengikat
4). Konsinyasi, yaitu barang titipan dari supplier/rekanan untuk dijual,pembayaran dilakukan setelah barang laku.
Khusus untuk pembelian, pada Rumah Sakit Pemerintah berlaku peaturan berdasarkan Keputusan Presiden No. 18 Tahun 2000, yaitu tenteng Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Dalam Kepprers ini diatur pengadaan barang melalui prosedur pengadaan langsung, pemilihan langsung, maupun dengan pelelangan, yang pada pelaksanaan dilapangan kadang-kadang menimbulkan ketidak efesiensi, karena sesuatu jenis barang harganya dapat berbeda tergantung cara pengadaannya. Akibatnya akan menyulitkan dalam menyajikan dalam data akuntansi dan komputerisasi (sistim informasi akuntansi dan manajemen).
Penentuan kapan harus mengadakan, dalam jumlah berapa, dengan metode/cara apa barang diadakan sangat menetukan berpengaruh dalam mewujudkan pengelolaan
d. Penyimpanan
Fungsi penyimpanan ini sebenarnya termasuk juga fungsi penerimaan barang, yang sebetulnya juga mempunyai peran strategi. Kesalahan sering terjadi adalah penerimaan barang hanya mencocokkan dengan surat pengantar barang (faktur barang), bukan terhadap surat perintah kerja / surat pesanan (phurchase order =PO). Secara garis besar maka yang harus di cek kebenarannya adalah :
1), Kesesuaian dengan jenis, jumlah dan spesifikasi bahan serta waktu penyerahan barang terhadap surat pesan (SP), surat perintah kerja (SPK) atau purchase order (PO).
2). Kondisi fisik bahan, apakah tidak ada perubahan warna, kemasan, bau noda dan sebagainya yang mengindikasikan tingkat kualitas bahan.
3). Kesesuaian waktu penerimaan bahan terhadap batas waktu SP/PO.
Barang yang diterima tersebut kemudian dibuatkan berita acara penerimaan (BAP) barang, biasanya rangkap tiga, dimana salah satu tembus disamping gudang sebagai dokumen pendukung.
Berdasarkan sifat dan kepentingan baarang/bahan logistik ada beberapa jenis bahan logistik yang biasanya tidak langsung disimpan digudang,akan tetapi diterimakan langsung kepada pengguna. Yang penting adalah bahwa mekanisme ini harus diatur sedemikian rupa sehingga tercipta internal check (saling uji secaara otomatis) yang memadai, yang ditetapkan oleh berwenang (Direksi).
Fungsi penyimpana ini dapat diibaratkan sebagai jantung manajemen logistik, karena sangat menentukan kelancaran pendistribusian. Oleh karena itu maka tekhnik-tekhnik pengendalian persediaan perlu diketahui dan dipahami secara baik. Beberapa keuntungan melakukan fungsi penyimpanan ini adalah :
1). Untuk mengantisipasi keadaan yang fluktuatif, karena sering terjadi kesulitan memperkirakan kebuthan secara tepat dan akurat
2). Untuk smenghindari kekosongan bahan (out of stock)
3). Untuk menghemat biaya, serta mengantisipasi fluktasi kenaikan harga bahan
4). Untuk menjaga agar kualitas bahan dalam keadaan siap dipakai
5). Untuk mempercepat pendistribusian.
Fungsi penyimpana ini disebut jantung dari manajemen logistik karena dari sini dapat diketahui apakah tujuan manajemen logistik tercapai atau tidak. Sehingga salah satu indikator keberhasilan manajemen logistik adalah pengelolaan gudang tempat penyimpanan. Harap diingat bahwa tujuan manajemen logitik adalah ketersediaan bahan setiap dibutuhkan
Ada beberapa teori yang diberikan sebagai teori untuk mengendalikan persediaan ini, namun dalam penerapannya harus hati-hati, karena suatu teori baru dapat diterapkan telah dipenuhi. Misalnya saja untuk menerapkan teori pengendalian persediaan dipersyaratkan antara lain:
1). Kebutuhan bahan dapat diperkirakan dan dihitung dengan pasti.
2). Kesinambungan pemasok dapat dijamin.
3). Sistem informasi logistik yang terintegrasi dalm sistem informasi manajemen, memadai
4). Pengawasan intern (intenal Auditor) berjalan dengan baik dan konsekuen
5). Membudayakan pelaksanaan kerja yang tertib dan sehat
6). Reward and punishment system yang konsisten dan konsekuen.
7). Tersedia gudang dan pngelolaan yang memadai.
8). Anggaran yang cukup.
Teori yang dikenal dalam pengendalian persediaan adalah ABC system.
Dengan ABC Index kritisnya, EOQ (Economic Order Quality), JIT (Just In Time), Kanban System, dan lain sebagainya, namun teori ini dipergunakan dalam persediaan perusahaan yang memproduksi barang fisik.
Produk yang dihasilkan oleh rumah sakit adalah jasa, yang sifatnya intangibel , dan jasa pelayanan medik yang diberikan tergantung dari jenis penyakit yang akan di obati. Dengan demikian menjadi sangat sulit untuk dapat menebak pasien dengan kasus apa yang akan datang kerumah sakit. Untuk jenis penyakit yang sama saja obatnya berbeda tergantung jenis kelamin ,umur , keadaan pasien (kondisi umum) dan tergantung siapa dokternya. Dengan demikian maka pengendalian persediaan obat dan bahan farmasi tidak dapat menerapkan teori diatas secara konsekuen.
Oleh karena itu metode yang sering digunakan dalam pengendalian persediaan adalah dengan memperhatikan sifat barang / obat apakah termasuk barang vital, Esensial atau Normal (VEN System), digabungkan dengan apakah barang tersebut termasuk Fast atau Slow moving. Kombinasi kedua methode ini selama periode tertentu kemudian dihitung kebutuhan atau penggunaannya akan diketahui jumlah rata-rata penggunaan perbulan, dan juga fluktuasi permintaannya.
Dari perhitungan itu secara empiris, dapat ditetapkan berapa besar jumlah :
1). Persediaan minimal /jenis barang/bulan
2). Persediaan maksimal/jenis barang/bulan
3). Persediaan pengaman (iron stock/idle stock)
Untuk menghitung ini, yang perlu diperhatikan adalah berapa lama (duration) waktu peyediaan sejak pesanan diterima rekanan/suplier sampai barang diterima oleh rumah sakit (ini disebut Lead Time) dan berapa kebutuhan barang selama periode tersebut.
Dalam penyimpanan dikenal ada sistem FIFO (first in first out) dan LIFO (last in first out), namun dalam kenyataan di lapangan, yang di praktekkan hanyalah sistem fifo, sedangkan methode lifo hanya dig unakan dalam sistem akuntansi persediaan, karena ini akan berdampak pada perhitungan harga pokok penjualan dan dalam penyusunan laporan rugi laba. Khusus untuk rumah Sakit seharusnya fifo juga harus di baca sebagai firs expired first out (FEFO), mana yang mempunyai masa kadaluarsa pendek/singkat harus dikeluarkan terlebih dulu, tidak tergantung kapan diterimanya digudang.
e. Pendistribusian
Efisiensi pelaksanaan fungsi pendistribusian ini juga secara tidak langsung akan mempengaruhi kecermatan dan kecepatan penyediaan,oleh karena itu harus ditetappkan prosedur baku pendistribusian bahan logistik, meliputi:
1). Siapa yang berwenang dan bertanggung jawab mengenai kebenaran dan kewajaran permintaan bahan, baik mengenai jumlah, spesifikasi maupun waktu penyerahannya. Hal ini sangat penting agar tidak terjadi pemborosan atau pengeluaran yang tidak perlu.
2). Siapa yang berwenang dan bertanggung jawab menyetujui permintaan dan pengeluaran barang dari gudang. Di Rumah Sakit Pemerintah biasanya penanggung jawab gudang sekaligus bertindak selaku Bendaharawan Barang.
Pendistribusian bahan logistik selain dapat juga dilaksanakan berdasarkan par level metode, yaitu standarisasi jumlah bahan logistik tertentu untuk ruang tertentu. Kemudian setiap hari petugas gudang mengecek beberapa banyak bahan yang telah di gunakan, kemudian mengisi kembali agar jumlah bahan tetap.
f. Penghapusan
Penghapusan adalah proses penghapusan tanggung jawab bendahara barang atas bahan atau barang tertentu sekaligus mengeluarkan dari catatan/pembukuan yang berlaku penghapusan barang diperlukan karena :
1). Bahan/barang rusak tidak dapat dipakai kembali
2). Bahan/barang tidak dapat didaur ulang atau tidak ekonomis untuk diatur ulang
3). Bahan/barang sudah melewati masa kadalursa (expire date)
4). Bahan/ barang hilang karena pencurian atau sebab lain
Penghapusan barang dapat dilakukan dengan :
1). Pemusnahan, yaitu dibakar atau dipendam/ditanam
2). Dijual/dilelang. Untuk RS Pemerintah, hasil penjualan dan pelelangan harus disetor ke kas negara.
Setelah penghapusan dilaksanakan, maka dibuat berita acara Penghapusan, yang tembusannya dikirim keinstansi yang berkompeten.
B. Kerangka Berpikir
Terwujudnya keadaan sehat adalah kehendak semua pihak, tidak hanya oleh keluarga, kelompok dan bahkan oleh masyarakat. Untuk dapat mewujudkan keadaan tersebut, salah satu diantaranya yang mempunyai peranan cukup penting adalah menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Salah satu unit pelayanan kesehatan yang utama adalah puskesmas, dimana puskesmas adalah Unit pelaksana teknis dinas Kesehatan Kabupaten /Kota yanng bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Puskesmas berperan menyelenggarakan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar memperoleh derajat kesehatan yang optimal.
Pelaksanaan pembangunan di bidang kesehatan, di selenggarakan melalui usaha-usaha penyediaan pelayanan kesehatan yang lebih luas dan merata bagi seluruh masyarakat dimana salah satu program pelayanan kesehatan yang bersifat upaya pengobatan ( kuratif) membutuhkan logistik seperti obat-obatan untuk kegiatan pelayanan kesehatan baik di Puskesmas pembantu, oleh karena itu sangat diperlukan penerapan manajemen sehingga kebutuhan logistik dapat dipenuhi baik mengenai jenis, jumlah maupun kualitas yang dibutuhkan sacara efisien dengan kebutuhan di masing-masing unit pelayanan.
Ketersediaan setiap saat dibutuhkan ini sering dirancukan dengan istilah Just In Time, yang sebenarnya adalah salah satu methode untuk mengendalikan penyediaan bahan dalam proses produksi sesuai pentahapannya. Dengan demikian manajemen logistik dapat dipahami sebagai proses penggerakkan dan pemberdayaan semua sumber daya yang dimiliki dan atau yang potensial untuk dimanfaatkan, untuk mewujudkan ketersediaan bahan logistik, setiap saat dibutuhkan untuk operasional, secara efektif dan efisien. Oleh karena itu untuk menilai apakah pengelolaan logistik sudah memadai, menjadi sangat sederhana, yaitu dengan menilai apakah sering terjadi keterlambatan dan atau bahan yang dibutuhkan tidak tersedia, berapa kali frekuensinya, berapa banyak persediaan yang menganggur (idle stock) dan berapa lama hal itu terjadi. Berapa banyak bahan yang kadaluarsa atau rusak atau tidak dapat dipakai lagi. Menurut Hartono ( 2004 ) manajemen logistik sebagai suatu fungsi mempunyai kegiatan-kegiatan yakni perencanaan kebutuhan, penganggaran, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian dan penghapusan.

Daftar Pustaka

Minggu, 13 Maret 2011

ISU GENDER

ADA 5 ISU GENDER
DESCRIMINASI
MARGINALISASI
STEREOTYPE
BURDEN
VIOLENCE

1. DISKRIMINASI
Adanya pembedaan dari TK , karena faktor biologis
= Upah
= Kekuasaan/wewenang
= Peran
= …………….
= …………….
2. MARGINALISASI
Proses peminggiran TK perempuan terhadap SD
= Pekerjaan khusus
= Cara pandang tentang wanita
= Sebagai SD penunjang
= …………………………..
= …………………………..
3. STEREOTIPE/PELABELAN
Adanya “CAP” atau pelabelan karena faktor biologis
= Perempuan penggoda
= Laki-laki tidak setia
= Perempuan tidak produktif
= Perempuan tidak kuat…………….

4. Burden/beban kerja
Adanya kegiatan atau program yang dapat menambah beban kerja gender
= Program Air bersih
= Program PKK
=
5. Kekerasan
Kondisi yang menyebabkan seseorang mengalami atau tidak aman karena adanya sikap dan perbuatan orang lain. Bisa berupa fisik atau non fisik
= Menghina, melecehkan, tidak memperhatikan
= Memukul(fisik)
=

Pelatihan dan Orientasi Project KOTA II

LEARNiNG WORKSHOP &
PROJECT ORIENTATION
FOR KOTA PROJECT STAFF’S
Makassar, 7 – 15 march 2011

Term of Reference
Learning Workshop and Project Orientation for KOTA Project Staffs

A. Introduction

KOTA-II project is a continuation of KOTA-I with several improvements in implementation and strategy aim for maximum result of the project. Also the target area is being expanded to 3 (three) cities of Makassar, Jayapura, and Kupang (the latest is the new city). Trough KOTA- II project it is hoped that effective and efficient model on water, sanitation, and hygiene improvement in urban slum areas can be developed.
KOTA- II project will focus more on the improvement of river basin environment, which show poorer environmental condition rather than previous target areas. The project will also explore more appropriate water supply & sanitation options and hygiene promotion strategy that easier to replicate by local community and government. KOTA-II project will also involve children and youth as well as gender equality in the project. KOTA- II project will also explore appropriate strategies to increase garbage recycle, re-use, and reduce (3R) concepts into small business among family in project area.
Against the above introduction, CARE have been recruiting project staff to implement the project, some are new into KOTA Project. Preparing the effort above, the project need project orientation and learning workshop to all staffs. The events will be 9 days time sessions and 5 evening sessions as per attached rundown.

B. Method and Processes
To ensure a complete coverage of preparation materials for the project staff, an orientation and workshop sessions are being prepared to be conducted. The ‘orientation’ will cover necessary knowledge for the facilitators to be more effective in performing their job, while the ‘workshop’ part will provide simulations and case study sessions modeling the real experience and situations.
The orientation and workshop for KOTA-II Project staff will be facilitated by KOTA Project Management team as main facilitator. This orientation and workshop will involve project staff from 3 cities of Makassar, Jayapura and Kupang, including the local partner in Makassar. Including in the orientation package is the ‘pre test’and ‘post test’. The pre test is a list of questions prepared to be answered by participants at least 1 week before the orientation. This test result will help Facilitator/Trainer to gauge the level of knowledge and skill of the facilitators, which provide information to the team to prepare the most effective materials and methods, tailored to the group of staff being oriented. The post test will be given to the staff at the end of the orientation, which will help the team to measure how effective the orientation have been, and how effective the materials.
To ensure that orientation and workshop will closely match the need of each cities, comprehensive information, including challenges and opportunity of each Kota are to be provided to the team before the orientation. This document is to be prepared by PO from each city.

C. Expected Results

The orientation and workshop aims at enhancing knowledge and skill of project staff in order to prepare them in resume their role in implementing the KOTA project. The orientation provides subjects and tools to understand the project components, taking into account the needs for project sustainability. At the end of the course and further in the implementation in the field, participants will thus be able to;
- Internalize the design of the project and determine their role in achieving the project output and outcome.
- Implement the day to day tasks in compliance with CARE and donors standards, procedures and regulations.
- Facilitate local government to mainstream participatory approach towards hygiene behavior
Advocate decision makers to have strong commitment that manifest on policy development and implementation in AMPL development sector (SK POKJA AMPL, APBD, Renstra, and other necessary form of policy.

D. Output

• Annual Workplan
• PIP
• Annual budget plan
• PMF

E. Orientation and Workshop Materials

This orientation and workshop activity is meant to be a preparation session to better equip the project staff to implement the project , and therefore the subject will cover:

1. KOTA Project:
1.1. CARE and the donors
1.2. KOTA – II Project Design
1.3. PIP and Annual Work Plan KOTA II 2011 & 2012
2. KOTA Project Components
2.1. Behavior Change through Participatory Approach:
2.1.1. Behavior Change Concept
2.1.2. Community Based Total Sanitation (STBM- STBM Policy;5 pillars of STBM;Strategic plan of STBM on Kementerian Kesehatan)
2.2. Water & Sanitation Facilities system in Urban Area
2.3. Institutional Development to support the Achievement of KOTA Project
2.4. Child to child Approach in Health Promotion
2.5. Gender Mainstreaming in the KOTA program
2.6. Advocacy for improving healthy environment
2.7. Developing CAP through Participatory Method
2.8. Performance Monitoring Plan
2.9. Community Development Approach
3. Facilitation Skill
3.1. Communication and facilitation skills
3.2. Advocacy
3.3. Designing a facilitation
3.4. Facilitation exercise/practice (micro teaching)
4. Admin & Procurement, Finance and HRD

F. Participants

No Staff’s position Number
(person)
1. PD (Program Director) 1
2. RPM (Regional Program Manager) 1
3. PM (Project Manager) 1
4. Project Specialists 2
5. Project Consultants 1
6. Project Officers 3
7. CFs (Community Facilitator) 8
8. Admin/Procurement Officer 4
9. Finance Officer 2
11 NGO Team 8
10. Other ( Jakarta Team, etc) 3
TOTAL 34

G. Venue

Time and place of the orientation and workshop is in Makassar and will be conducted in 12 effective days;
Place : Hotel Grand Wisata, Makassar
Date : 7 – 15 March 2011 (not include check in and check out time)

H. Agenda
No Date Activity Method Moderator
Day - I
Sun, 6-3-2011
1 Min 14.00 WITA Check in Fill list attendance Hotel

Day - II
Mon, 7 -3 – 2011
1. 08.00 – 08.15 Opening ceremony RPM
2. 08.15 – 08.45 Introduction (know each oher) Committee
3. 08.45 – 09.00 Workshop objective and agenda PM
4. 09.00 – 09.30 CARE as an organization Presentation PM
5. 09.30 – 10.30 Break
6. 09.45 - 12.30 Understanding project design and targets (goal-objectives-outputs and confirmation on target locations and beneficiaries) Presentation
RPM
7. 12.30 – 13.30 Lunch
8. 13.30 – 15.30 Understanding project strategies and designed activities as in proposal (by sectors) Presentation RPM
15.30 – 15.45 Break
7. 15.45 – 17.00 Project structure and work mechanism (roles of team members, working relations and coordination mechanism, nature of CFO work, etc) Presentation RPM
8. 17.00 – 19.30 Dinner
9. 19.30 – 21.30 Evening Session I
M&E systems, mechanisms and instruments Presentation and working group PM

Day - III
Tue, 8 – 3 – 2011
1. 08.00 – 08.15 Reflection Brainstorming Committee
2. 08.15 – 09.45 Behavior Change Through Participatory approach Brainst, group disc PM
3. 09.45 – 10.00 Break
4. 10.00 – 11.30 STBM concept Brainst, group disc PM
11.30 – 12.30 Community Development Approach (part-1) Brainst, group disc RPM
5. 12.30 – 13.30 Lunch
13.30 – 14.30 Community Development Approach (part-2) Brainst, group disc RPM
6. 14.30 – 15.30 Watsan in Urban settings (part-1) Brainst, group disc Watsan Sp
7. 15.30 – 15.45 Break
8. 15.45 – 17.00 Watsan in Urban settings (part-2) Brainst, group disc Watsan Sp
9. 17.00 – 19.30 Dinner
10. 19.30 – 21.30 Evening session II
1. Basic technical planning, construction & monitoring
2. Exercise on triggering in STBM Brainst, group disc Watsan Sp & PM

Day - IV
Wed, 9-3- 2011
1. 08.00 – 08.15 Reflection
2. 08.15 – 10.15 Gender Equality in Urban Watsan Brainst, group disc Gender Sp
3. 10.15 – 10.30 Break
4. 10.30 – 12.30 Institution Development Brainst, group disc ID Sp
5. 12.30 – 13.30 Lunch
6. 13.30 – 15.30 CAP for WASH (MPA PHAST) (part-1) Brainst, group disc PM and team
7. 15.30 – 15.45 Break
8. 15.45 – 17.45 CAP for WASH (MPA PHAST) (part-2) Brainst, group disc PM and team
9. 17.45 – 19.30 Dinner
10. 19.30 – 21.30 Evening Session III
Exercise CAP for WASH (part-3) Brainst, group disc & Role play PM and team

Day - V
Thu, 10 - 3- 2011
1. 08.00 – 08.15 Reflection Brainstorming
2. 08.15 – 10.15 Exercise CAP for WASH (part- 4) Brainst, group disc & Role play PM an team
3. 10.15 – 10.30 Break
4. 10.30 – 12.30 Child to child approach in hygiene promotion Brainst, group disc PM
5. 12.30 – 13.30 Lunch
6. 13.30 – 15.30 Advocacy for improving environmental health Brainst, group disc ID Sp
7. 15.30 – 15.45 Break
8. 15.45 – 17.30 Communication to community through social marketing approach Brainst, group disc PM
9. 17.30 – 19.30 Dinner
10. 19.30 – 21.30 Evening session IV
Social Marketing Plan Brainst, group disc & Role play PM

Day - VI
Fri, 11 - 3 – 2011
1. 08.00 – 08.15 Reflection Brainstorming
2. 08.15 – 10.15 Methods of Facilitation Brainst, group disc ID Sp
3. 10.15 – 10.30 Break
4. 10.30 – 12.00 Execise on Facilitation skills Brainst, group disc ID Sp
5. 12.00 – 14.00 Lunch + (Praying Time-Jumatan)
6. 14.00 – 15.30 FGD Facilitation Brainst, group disc PM and team
7. 15.30 – 15.45 Break
8. 15.45 – 17.15 PMP (Performance Monitoring Plan) Brainst, group disc PM and team
9. 17.15 – 19.30 Dinner
10. 19.30 – 21.30 Evening session V
Developing PMF KOTA II Brainst, group disc PM and team

Day - VII
Sat, 12 - 3 – 2011
1. 08.00 – 08.15 Reflection Brainstorming Committee
2. 08.15 – 10.15 Understanding Budget for field activities Brainst, group disc PM
3. 10.15 – 10.30 Break
4. 10.30 – 12.30 Annual Budget Plan Brainst, group disc PM
5. 12.30 – 13.30 Lunch
6. 13.30 – 15.30 Annual Work plan (part-1) Brainst, group disc PM
7. 15.30 – 15.45 Break
8. 15.45 – 18.00 Annual Work plan (part-2) Brainst, group disc PM and team
9. 18.00 – 19.30 Dinner
10. 19.30 - Free

Day - VIII
Sun, 13 - 3 – 2011
1. 08.00 – 12.30 Gereja + Break
12.30 – 14.00 ISHOMA
2. 14.00 – 17.00 Field Visit (optional) Travel, group disc Team
9. 17.00 – 19.30 Dinner
10. 19.30 – 21.30 Free*
(*optional agenda: Exercise CAP for WASH (part- 5)

Day - IX
Mon, 14 -3 – 2011
1. 08.30 – 10.30 CARE Finance SOPs and aligning the SOPs with the project’s budget Presentation, Brainstorming Finance Jkt
2. 10.30 – 10.45 Break
3. 10.30 – 12.30 Procurement SOPs Presentation, Brainstorming Proc Jkt
4. 12.30 – 13.30 Lunch
5. 13.30 – 15.30 Compliance issues and Admin procedures Presentation, Brainstorming Proc
6. 15.30 – 15.45 Break
7. 15.45 – 17.30 HR Presentation, Brainstorming HR Jkt
8. 17.30 – 19.30 Dinner
9. 19.30 – 21.30 Evening Session VII
Annual workplan (part-3) Brainst, group disc

Day - X
Tue, 15 - 3 - 2011
1. 08.00 – 08.30 Reflections
2. 08.30 – 10.30 Exercise on Admin, Finance, Procurement and HR (per unit) Presentation, Brainstorming Jkt team
3. 10.30 – 10.45 Break
4. 10.45 – 12.30 Q & A on Admin, Finance, Procurement and HR Presentation, Brainstorming Jkt team
5. 12.30 – 13.30 Lunch
6. 14.00 – 15.30 RTL (part-1) Brainst, group disc PM and team
7. 15.30 – 15.45 Break
8. 15.45 – 17.00 RTL (part-2)
RTL Presentation & General Conclusions Brainst, group disc PM and team
9. 17.30 – 19.30 Dinner
19.30 - Closing Ceremony Program Director

Day - XI
Wed, 16 - 3 – 2011
1. Maks 12.00 Check Out Hotel

I. Rundown of the subject is attached as excel format
J. Budget estimation is attached as excel form

ESTABLISHMENT OF INDIVIDUAL CONSONANCE IN MAKASSAR MUSLIM COMMUNITIES ON CONDOMS THROUGH LOCAL FUNCTION INSTITUTION Adam Badwi, Munadh...